-->

Tulislah kata kunci yang Anda cari, Enter

Terjebak Soal Soal Pendidikan
author photo
By On
Terjebak Soal Soal Pendidikan

Baca! Pahami dan Renungkan. Inilah Potret Sekolah Kita.

Belajar itu kata kerja. Artinya yang penting adalah pendekatan proses. Bagaimana anak "mengalami" proses belajar. Dari mengalami itulah diharapkan muncul "transformasi", perubahan. Perubahan apa? perubahan pikiran dan--ujungnya yang diharapkan--tingkah laku. 


Entah mengapa sekolah kita lebih suka "melompat" langsung ke hasil, alih-alih proses. Seolah entah prosesnya seperti apa, yang penting hasilnya. Dan hasil ini pun direduksi sebatas angka. Angka itu pun tidak representatif. Apa bukti tidak representatif? jelas sekali, semua pendaftaran jenjang pendidikan tertentu masih menerapkan tes ulang. Tidak mengacu--bukti bahwa tidak percaya--pada angka di rapor atau ijazah. 


Makanya begitu ada perubahan isu dalam kurikulum, selalu yang ramai adalah "soal". Bukan soal nyata, tapi "soal" yang dibuat-buat. Misalnya, sedang menghangat HOTS yang dikejar "pelatihan membuat soal HOTS". Sedang ramai pembelajaran daring, yang dikejar "pelatihan membuat soal dengan bla..bla..bla..". 


Kementerian Pendidikan pun juga suka "melompat". Seperti sekarang ini. Kebakaran jenggot akibat skor PISA Indonesia yang selalu rendah dibandingkan negara maju dijawab dengan kebijakan mengubah evaluasinya. AKM, "A"-nya itu adalah Assesmen, padanan katanya penilaian, alias ya soal lagi. Bisa saja berkilah bahwa penilaian itu rentetan dari proses. Ya, tapi kemendikbud fokus pada Assesmen-nya, bukan pembelajarannya. 


Jadilah sekarang para guru dan penyedia pelatihan sibuk dengan "pembuatan soal berorientasi AKM". Nanti siswa akan diberi "soal buatan" ini, yang saya yakin akan sama saja pola pembuatannya dari soal-soal yang sebelumnya: copy-paste. Jadi pelatihan pembuatan soal AKM itu seperti "ajang berbagi file soal AKM".  


Padahal ada banyak "soal nyata" di sekitar kita. Tapi siswa kita disibukkan dengan "soal buatan". Mereka sibuk menjawab soal tentang banjir, tapi lupa membersihkan selokannya. Mereka sibuk menjawab soal tentang kebudayaan, tapi bingung berbicara bahasa daerah. Mereka sibuk menjawab soal tentang demokrasi, tapi manut ketika pemilu disodori uang beli suara. 


Parahnya lagi, soal-soal buatan ini pun sudah ditentukan jawabannya. Bahkan jawaban ini sudah sedemikian otomatis. Selesai menjawab soal buatan itu, langsung muncul hasilnya. Tidak ada diskusi. Pokoknya itu jawabannya. Titik. Mau diskusi seperti apa, lha terlalu banyak hal yang harus dipelajari siswa dalam terlalu sedikit waktu belajar. 


Saya tidak sedang mengkritik para guru. Kasihan mereka. Diombang-ambing kebijakan yang tidak jelas landasan filosofisnya. Guru umumnya menjadi seperti petugas sensus: mencatat angka perolehan siswa, melakukan tabulasi dengan hasil minimal yang sudah ditentukan. Lalu hasil tabulasi itu diambil pemerintah untuk membuat peta, mana daerah yang dianggap pintar menjawab soal buatan dan mana yang belum. 


Saya melihat rekan-rekan guru itu malah bisa menjadi "guru sepenuhnya" justru di luar pembelajaran. Memotivasi siswa yang sedang kacau, memberi saran-saran yang menguatkan, hingga membantu kesulitan ekonominya. 


Di tengah dunia yang berubah makin kompetitif--tidak hanya antar manusia tapi juga manusia dengan mesin--ini, pendidikan kita harus berbenah. Tinggalkan kebiasaan membikin "soal buatan" dan mari ajari anak kita menemukan "soal nyata" di sekitar mereka, ajak menjadi solusi dari soal itu. Dengan demikian akan terwujud pendidikan yang berkesan, pendidikan yang memanusiakan, pendidikan yang memerdekakan, dan konsep-konsep lain yang telah banyak dipelajari dalam kelas-kelas keguruan itu. Semoga. (Ahmad Faizin Karimi @afkareem)

Click to comment
A- Kinerja A-GLD A-Gtk Adminisrasi Guru Akhlak Tasawuf AKM akreditasi Akreditasi Perpustakaan AKSI Puspendik ANBK anti virus aplikasi Aqidah Akhlak arkas asuransi Bahasa Arab Bank BDR beasiswa Bidikmisi big book BIOUN Bisnis BK blog BOS BPOPP bse BSM BSU buku buku guru pai Convert Suara ke Text CPNS crochet DAK Dapodik dapodik paud Dapodikdasmen DHGTK Disabilitas Domnis Pesantren Ramadhan Dukcapil DUPAK e-learning E-Maarif E-Monev E-Rapor E-sarpras E-SKP EDS EHB-BKS Emis Emis PAI Emis Pendis Emis SDM eRapor FAQ Dapodik 2019.c FIKSI Fiqih G Suite for Education Geisa Google form Google Form Quiz gtk Hardiknas IHT ijazah Infaq info info gtk inpassing inpassing kemenag Insenntif Guru ISMA Jabfung Kemdikbud jual beli Kalender Pendidikan Kelas Maya Kelulusan Kemdikbud Kemenag Kepala Sekolah KI/KD KIP-Kuliah Kisi-kisi Kompetensi Guru 2045 kopsi kredit KSN KTSP Kurikulum LDBI LTMPT makalah Materi PAI media pembelajaran Microsift Word Microsoft Word Modul Guru Modul TIK GPO motivasi MPLS MS Word mudlarabah qiradl musaqah Mutasi Muzara'ah dan Mukhabarah nilai online NISN NPSN NPWP nrg NUKS NUPTK PAIS Pajak PAK Panduan PAS PDSS PDUN Pembelajaran Pembelajaran Kontekstual pendidikan Pendis PerMenDikBud PerPus Peserta Didik PIP PJB PMP PNS PPDB PPG PPG Daljab PPPK ppt Pramuka Profil Guru 2045 PTK qurdis Rapor Dapodik raport riba RKAS RPL RPP SBMPTN sehat Sekolah Penggerak sertifikasi Shadaqah SHUN Siaga Siaga Pendis Sim PKB Simpak Simpatika Simulasi SIPLah SKI SKTP Smadav SNMPTN SNPTN Soal Online Span ptkin Survei lingkungan belajar tamsil Tekno tips tpp Tutorial UAMNUBK UASBN UBKD UN UNBK UNP USBN USP UTBK Verval PD Verval ponsel Verval PTK Verval SP Verval TIK VHD Whistleblower zakat