-->

Tulislah kata kunci yang Anda cari, Enter

author photo
By On
Super Blue Blood Moon Jangan Cuma Menyaksikan, Shalat Gerhana Bagian Penting!
Pada tanggal 31 Januari 2018 Akan terjadi gerhana bulan dengan julukan "Super Blue Blood Moon" Fenomena ini sangat langkah karena tidak terjadi setiap tahunnya. Menyikapi terjadinya fenomena gerhana bulan ini Gubernur DKI Anies Baswedan memberikan surat himbauan yang salah satunya ditujukan kepada kadisdik harap menyebarkan edaran kepada sekolah-sekolah berisi informasi tentang fenomena gerhana bulan disertai dengan himbauan kepada guru untuk menjadikan fenomena ini sebagai media pembelajaran dan mendorong minat siswa mempelajari sains serta mensyukuri anugerah dan mengagumi kebesaran Tuhan.

Kaitannya dalam dunia pendidikan tujuan pemebelajaran ini sangat bagus sekali karena di latarbelakangi fenomena alam yang nyata. Namun praktek pembelajaran ini jangan sampai di salah artikan khususnya bagi pendidik maupun siswa, jangan sampai hanya terpancing untuk menyaksikan dan menikmati fenomenanya saja. Bagian yang terpentingnya adalah menjelaskan fenomena "Super Blue Blood Moon" serta mengajarkan kepada siswa untuk melaksanakan shalat gerhana sebagai wujud mensyukuri anugerah dan mengagumi kebesaran Tuhan. Dan inilah yang dimaksud surat himbauan itu.

Mengambil bagian dari pendidikan karakter mengkombinasikan IPTEK dan IMTAQ sangat tepat sebagai wujud pembelajaran terkini. Siswa akan mengerti fenomena "Super Blue Blood Moon" ini secara sains sekaligus mempunyai keyakinan religius yang mantap.

Sebagai rujukan belajar, Anda bisa mepelajari fenomena langkah super blue blood moon secara sains lebih lengkap di https://www.nasa.gov

Menurut NASA Super Blue Blood Moon merupakan Gabungan ketiga peristiwa luar angkasa yang sangat langka itu adalah supermoon ekstra besar, blue moon atau bulan biru, dan gerhana bulan total.

Fenomena Super Blue Blood Moon yang akan terjadi pada bulan purnama 31 Januari menjadi fenomena yang spesial karena 3 alasan, berikut 3 fakta menurut sumber NASA:
  1. Super Blue Blood Moon ini adalah yang ketiga dari serangkaian "supermoons," saat Bulan mendekati Bumi di orbitnya - dikenal sebagai perigee - dan sekitar 14 persen lebih terang dari biasanya.
  2. Ini juga merupakan bulan purnama kedua bulan ini, yang umumnya dikenal sebagai "bulan biru." Bulan biru super akan melewati bayangan bumi untuk memberi pemirsa di lokasi yang tepat gerhana bulan total.
  3. Sementara Bulan berada di bayangan bumi, akan ada warna kemerahan, yang dikenal sebagai "bulan darah."
Sumber video dari https://www.nasa.gov/feature/super-blue-blood-moon-coming-jan-31 Untuk menonton video NASA ScienceCast sebuah Trilogi Supermoon tentang supermoon pada tanggal 3 Desember 2017, Jan. 1, 2018, dan Jan. 31, 2018, klik di sini.

Puncak trilogi supermoon yang jatuh pada Rabu (31/1/2018) adalah fenomena bulan super langka, yang terakhir terjadi pada 31 Maret 1866 atau 152 tahun lalu. Pada fenomena gabungan langka nanti, bulan sedang memasuki fase supermoon di mana bulan berada di posisi paling dekat dengan bumi dalam orbitnya sehingga membuat bulan terlihat 14 persen lebih besar dan 30 persen lebih terang dari biasanya.

NASA mengungkapkan bahwa dua hari lagi, bulan akan berada di 223.068 mil dari bumi, atau bukan di titik biasanya, yaitu 238.855 mil.

Saat gerhana terjadi, cahaya bulan tersaring oleh atmosfer bumi yang membuat cahaya putih memantul jauh dari bulan sehingga cahaya merah atau jingga yang menyerupai warna merah darah tercermin di bulan. Di perkirakan selama 76 menit bulan benar-benar tenggelam dalam bayang-bayang gelap bumi. Saat itu matahari, bulan, dan bumi akan sejajar. Baca lebih lengkap di http://jogja.tribunnews.com/2018/01/29/penjelasan-ilmiah-tentang-super-blue-blood-moon-fenomena-alam-yang-super-langka

Dengan mempelajari fakta-fakta fenomena gerhana bulan secara sains melalui sumber ilmiahnya siswa akan lebih berpikir rasional daripada harus mempercayai cerita-cerita mitos dari orang tua terdahulu. 

Dan parahnya mitos tentang gerhana bulan ini masih dipercayai hingga sekarang tidak hanya di negeri kita ini bahkan di negara lain pun sama. Beikut mitos gerhana bulan yang masih dipercayai di belahan dunia. Saya sadur sesuai aslinya dari https://tekno.tempo.co/read/897837/inilah-4-mitos-soal-gerhana-bulan-dan-matahari sebagai bagian pembelajaran.

Bulan Disantap Batara Kala. Dalam mitologi Jawa, Batara Kala (Kalaharu) adalah raksasa jahat yang sangat kuat. Dia selalu membunuh manusia, terutama anak-anak, dan semua orang takut padanya. Diam-diam dia terbang ke surga dan mencuri beberapa tetes air tirta amertasari, air keabadian. Batara Surya (Dewa Matahari) dan Batara Candra (Dewa Bulan) mengetahuinya dan segera melaporkan ke Batara Guru.

Batara Guru memerintahkan Batara Wisnu (Dewa Pemelihara Alam) untuk merebut kembali tirta amertasari. Kemudian Batara Wisnu mengambil senjata ampuhnya yaitu Chakra.
Ketika Batara Kala meminum Tirta Amertasari dan baru sampai ke kerongkongannya, Batara Wisnu keburu menebas batang leher Batara Kala dengan Chakra.

Batang tubuh Batara Kala melayang jatuh ke bumi, menjelma menjadi lesung kayu. Sementara kepalanya melayang diangkasa, tetap hidup abadi karena telah terlanjur meminum tirta amertasari. Dalam waktu-waktu tertentu, kepala tersebut memakan bulan.

Pantangan Bagi Perempuan Hamil. Di Indonesia, gerhana bulan maupun gerhana matahari, merupakan pantangan bagi perempuan hamil. Gerhana dianggap memancarkan efek negatif bagi perempuan hamil tersebut.

Karena itu, perempuan yang sedang hamil diharuskan tetap berada di dalam rumah selama gerhana berlangsung. Kalaupun memaksa, niscaya bayi yang dikandung akan lahir cacat. Entah itu bayi akan buta atau memiliki bibir sumbing.

Makanan Terpapar Racun. Di India, saat gerhana matahari atau gerhana bulan berlangsung, banyak orang akan menolak makan. Mereka juga menjauhi makanan yang belum dimasak.

Hal tersebut dilakukan atas dasar kepercayaan, makanan yang dimasak saat gerhana terpapar racun. Mitos ini juga tumbuh di Jepang yang meyakini gerhana sebagai pertanda penyebar racun.

Tanda Dewa Marah. Lain lagi dengan kepercayaan masyarakat Yunani kuno. Gerhana, khususnya gerhana matahari, dipercaya sebagai tanda kemarahan Dewa. Gerhana dipercaya sebagai tanda mulainya bencana di bumi. Sebutan gerhana atau "eclipse" pun berasal dari bahasa Yunani kuno "Ekleipsis" yang berarti "ditinggalkan".

Dr. H. Arwin Juli Rakhmadi Butar-Butar, MA. menjelaskan fenomena gerhana dalam pandangan agama (Qur'an dan Hadist) http://www.islamaktual.net/2015/04/gerhana-menurut-al-quran-sunnah-dan.html

Terminologi gerhana dalam bahasa Arab ada dua istilah: (1) “al-khusuf”, berasal dari kata “kha-sa-fa” yang bermakna tertutup (khasafa, inkhasafa) dan hilang (ghaba), (2) “al-kusuf”, berasal dari kata ka-sa-fa yang bermakna bagian dari langit (qath’an min as-sama’). Adakalanya kata “al-khusuf” dikhususkan untuk gerhana bulan, dan “al-kusuf” untuk gerhana matahari. Namun terkadang juga keduanya dapat digunakan secara bersamaan.

Kata “khasafa” dan yang seakar dengannya disitir dalam beberapa ayat, antara lain:
Qs. al-Qashas [28] ayat 81,
 “Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi….”
Qs. al-Qashas [28] ayat 82,
“Kalau Allah tidak melimpahkan karunia-Nya atas kita, benar-benar Dia telah membenamkan kita”
Qs. al-Ankabut [29] ayat 40,
 “Dan diantara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi”
Qs. Saba’ [34] ayat 9,
 “Jika Kami menghendaki, niscaya Kami benamkan mereka di bumi”
Qs. al-Mulk [67] ayat 16,
“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang (berkuasa) di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang?”
Qs. al-Qiyamah [75] ayat 7-9,
“Maka apabila mata terbelalak (ketakutan), dan apabila bulan telah hilang cahayanya, dan matahari dan bulan dikumpulkan”
Sementara itu kata “kasafa” atau yang seakar dengannya disebutkan antara lain:
Qs. asy-Syu’ara [26] ayat 187,
“Maka jatuhkanlah atas kami gumpalan dari langit, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”
Qs. ath-Thur [52] ayat 44,
“Jika mereka melihat sebagian dari langit gugur, mereka akan mengatakan, “itu adalah awan yang bertindih-tindih”
Qs. ar-Rum [30] ayat 48,
“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal, lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.”

Beberapa ayat di atas yang menggunakan kata khasafa beserta pecahannya seluruhnya bermakna “hilang”, “terbenam”, “tertutup” dan makna-makna lainnya. Pada keseluruhannya, ayat-ayat ini mengisahkan mengenai kesombongan Qarun. Sementara itu Qs. al-Qiyamah [75] ayat 7-9 tampaknya adalah yang cukup dekat mengindikasikan kepada fenomena gerhana yang dimaksud. Al-Baghawi dalam tafsirnya menjelaskan kata “wa khasafa al-qamar” (dan apabila bulan telah hilang cahayanya) sebagai gelap dan hilangnya sinar dan cahaya bulan. Sementara itu Ibn Katsir (w. 774/1372) menjelaskan kata “fa idza bariq al-bashar” (maka apabila mata terbelalak), sebagai mata yang terkagum, terpesona, sekaligus mengherankan beserta hal-hal luar biasa lainnya tatkala melihat fenomena itu yang mana hal ini terjadi pada hari kiamat.

Sementara itu al-Qurthubi (w. 671/1272) memberi penafsiran beragam terhadap ayat “wa khasafa al-qamar”. Dari sejumlah penafsirannya antara lain al-Qurthubi memberi isyarat bahwa kata “khasafa” sebagai gerhana yang terjadi di dunia. Hal ini didukung pula oleh Qs. al-Qashas [28] ayat 81 “fa khasafna bihi wa bidarihi al-ardh…” (maka kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi).

Gerhana dalam Sunnah
Sejatinya Hadits-Hadits mengenai gerhana sangat banyak. Namun bila diperhatikan seluruh Hadits-Hadits itu pada mulanya menerangkan mengenai kematian Ibrahim putra Rasulullah SAW. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim disebutkan:

“Bersabda Nabi SAW: Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari kebesaran Allah, “keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak pula karena hidupnya” (Muttafaq ‘alaihi).

“Dari Mughirah bin Syu’bah, ia berkata: telah terjadi gerhana matahari dizaman Nabi SAW pada hari wafatnya Ibrahim (putra Nabi SAW). Manusia berkata: “tertutupnya matahari (gerhana) itu karena wafatnya Ibrahim”. Maka Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan tidak tertutup (gerhana) karena matinya seseorang, bukan pula karena hidupnya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dua Hadits ini -dan masih ada banyak lagi lainnya- menjelaskan mengenai terjadinya fenomena gerhana di zaman Nabi SAW. Bahwa keduanya dikaitkan dan atau bertepatan dengan wafatnya putra Rasulullah SAW yang bernama Ibrahim. Namun secara jelas kedua Hadits ini menginformasikan bahwa segarisnya matahari dan bulan merupakan syarat sekaligus pertanda terjadinya gerhana.

Hadits baginda Nabi SAW di atas juga menunjukkan kepada kita bahwa gerhana bukan semata fenomena alam biasa. Gerhana merupakan fenomena alam yang memang Allah kehendaki sebagai salah satu tanda kebesaran-Nya. Syaikhul Islam Ibn Taimiyah (w. 728/1327) dalam “ar-Radd ‘ala al-Manthiqiyyin” menjelaskan bahwa Hadits di atas merupakan bantahan terhadap praduga sebagian manusia yang berfaham bahwa tertutupnya matahari ketika itu dikarenakan wafatnya Ibrahim putra Rasulullah SAW.

Memang merupakan fakta bahwa wafatnya Ibrahim pada saat itu bertepatan ketika matahari dalam keadaan tertutup (alias terjadi gerhana). Maka dalam hal ini Nabi SAW menjelaskan secara tegas bahwa gerhana itu bukan yang menjadi sebab wafat putranya atau siapapun. Nabi SAW menjelaskan bahwa hal ini semata merupakan tanda kebesaran Allah yang memberi rasa takut kepada hamba-hamba-Nya.

Mengenalkan fenomena gerhana melalui dongeng akan memebuat mereka bodoh. Mempalajari fenomena gerhana secara sains tanpa dukungan dari keimanan akan membuat mereka menjadi sombong. Seperti yang sudah saya singgung diatas bagian terpenting adalah memahamkan siswa secara menyeluruh baik dari segi sains maupun dari segi agama sebagai wujud mengagumi kebesaran Tuhan.

Click to comment